TATOR, UPDATENEWS – Setahun pemerintahan Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeg bersama Wakil Bupati Erianto Laso’ Paundanan (ZATRIA) diwarnai kontras mencolok antara deretan penghargaan administratif dan realitas pembangunan di lapangan. Di balik capaian di atas kertas, berbagai proyek strategis justru tersendat dan gagal diselesaikan tepat waktu.
Sepanjang 2025, Pemerintah Kabupaten Tana Toraja tercatat menerima sejumlah penghargaan. Namun, capaian tersebut dinilai belum mencerminkan kondisi riil pembangunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Catatan redaksi menunjukkan, banyak proyek fisik strategis daerah mengalami keterlambatan. Mulai dari infrastruktur jalan, fasilitas publik, hingga penunjang layanan masyarakat, tak sedikit yang molor dari jadwal kontrak.
Kondisi ini menjadi ironi jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, saat Zadrak Tombeg masih menjabat sebagai Wakil Bupati. Pada periode tersebut, pengendalian proyek pembangunan relatif lebih tertib, pengawasan lapangan berjalan aktif, dan keterlambatan pekerjaan dapat ditekan.
Namun setelah kepemimpinan penuh berada di tangan Zadrak Tombeg sebagai Bupati, situasi justru berubah. Tahun pertama pemerintahan ZATRIA diwarnai lemahnya pengawasan teknis, serapan anggaran yang tidak optimal, serta proyek-proyek yang berlarut tanpa kepastian penyelesaian.
“Secara objektif, publik melihat ada penurunan kualitas manajemen proyek. Ini menjadi tanda tanya besar, mengingat pengalaman pemerintahan sebelumnya seharusnya menjadi modal kuat”
Pemkab Tana Toraja memang mencatat prestasi administratif, namun sebagian besar bersifat seremonial. Capaian tersebut belum sejalan dengan kualitas pembangunan fisik yang seharusnya menjadi prioritas utama dan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dampak Langsung ke Masyarakat
Keterlambatan proyek berdampak nyata bagi warga. Aktivitas ekonomi terganggu, akses transportasi terhambat, dan pelayanan publik tidak berjalan optimal. Kondisi ini perlahan menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.
Ironi ini memperkuat persepsi bahwa keberhasilan administratif tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan substantif di lapangan.
Redaksi menilai, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintahan ZATRIA. Kepemimpinan daerah tidak cukup diukur dari jumlah penghargaan, tetapi dari kemampuan memastikan program berjalan tepat waktu, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Tahun pertama seharusnya menjadi fondasi. Jika justru diwarnai proyek molor, maka pembenahan sistem perencanaan, pengawasan, dan kepemimpinan teknis menjadi keharusan mendesak”
Penutup
Perbandingan antara kinerja masa Wakil Bupati dan masa jabatan Bupati ini bukan untuk menyerang pribadi, melainkan sebagai pengingat bahwa ekspektasi publik semakin tinggi. Pengalaman birokrasi semestinya melahirkan tata kelola pemerintahan yang lebih rapi, bukan sebaliknya.
Masyarakat Tana Toraja kini menanti langkah nyata, bukan sekadar prestasi di atas kertas.
Penulis: Nober Salamba
Editor: Redaksi






