TATOR, UPDATENEWS – Hampir sepekan setelah rumahnya ludes dilalap api, Albertin Ratu’, korban kebakaran di Lo’ko’ Pandan, Kelurahan Bebok, Kecamatan Sangalla Utara, Kabupaten Tana Toraja, masih harus bertahan hidup di pondok darurat beratap terpal dan berdinding tikar bersama suami dan anaknya. Di tengah kehilangan tempat tinggal dan harta benda, keluarga ini kini berharap perhatian nyata Pemerintah Kabupaten Tana Toraja agar mereka dapat kembali memiliki rumah yang layak.
Kebakaran yang terjadi pada Senin sore, 5 Oktober 2026, itu menghanguskan satu unit rumah hingga rata dengan tanah dan satu lumbung. Api juga merusak sebagian rumah yang berada di sebelahnya.
Sejumlah harta benda milik keluarga Albertin, termasuk uang tunai dan emas, turut terbakar dalam peristiwa tersebut.
Saat kebakaran terjadi, penghuni rumah sedang tidak berada di tempat karena menghadiri acara rambu solo’.
Petugas pemadam kebakaran bersama personel Satpol PP Kabupaten Tana Toraja, Polsek Sangalla, dan masyarakat setempat kemudian turun ke lokasi untuk memadamkan api yang terus meluas.
Namun, setelah api berhasil dipadamkan, persoalan yang dihadapi keluarga Albertin belum berakhir. Kehilangan rumah membuat mereka terpaksa tinggal di pondok sederhana dengan fasilitas terbatas, jauh dari kondisi tempat tinggal yang layak.
Kondisi tersebut menggambarkan beratnya kehidupan yang harus dijalani korban setelah musibah. Selain kehilangan tempat berlindung, keluarga ini juga harus memikirkan bagaimana melanjutkan kehidupan di tengah keterbatasan yang mereka hadapi.
Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan korban kebakaran tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Perhatian setelah bencana, terutama pemenuhan kebutuhan dasar dan ketersediaan tempat tinggal sementara, menjadi bagian penting untuk membantu korban bangkit dari musibah.
Di tengah kondisi tersebut, kepedulian justru datang dari mahasiswa Universitas Terbuka bersama para alumni. Mereka mengumpulkan dan menyerahkan bantuan uang tunai kepada keluarga Albertin sebagai bentuk solidaritas untuk meringankan beban korban.
Kunjungan itu juga menjadi wujud keprihatinan terhadap kondisi keluarga yang masih harus bertahan di pondok darurat hampir sepekan setelah rumah mereka terbakar.
Perhatian dari kalangan mahasiswa dan alumni tersebut menjadi dukungan moral bagi keluarga Albertin. Namun, kebutuhan untuk kembali memiliki tempat tinggal yang layak masih menjadi harapan besar bagi keluarga tersebut.
Sementara itu, Yulianti Madaun Manggau, anak Albertin yang merupakan mahasiswa Universitas Terbuka, selama ini berjuang membiayai pendidikannya sendiri. Ia bekerja di sebuah toko sambil kuliah agar dapat melanjutkan pendidikan tanpa membebani orang tuanya.
Kini, setelah musibah kebakaran menimpa keluarganya, harapan untuk kembali memiliki rumah menjadi salah satu kebutuhan mendesak yang ingin diwujudkan Albertin.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Tana Toraja memberikan perhatian dan bantuan nyata agar rumahnya dapat dibangun kembali. Dengan begitu, ia bersama suami dan anaknya dapat kembali menempati tempat tinggal yang aman dan layak.
Kondisi Albertin menjadi potret perjuangan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran. Di tengah keterbatasan yang harus dihadapi, bantuan dan perhatian pemerintah daerah sangat diharapkan agar korban tidak terlalu lama bertahan dalam kondisi darurat.
Musibah memang tidak dapat diprediksi. Namun, bagi warga yang kehilangan rumah dan harta benda, kepedulian setelah bencana sangat berarti untuk membantu mereka bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara layak.
Penulis: Nober Salamba
Editor: Redaksi












