TATOR, UPDATENEWS – Proses penerimaan tenaga kebersihan, juru masak hingga satpam (Tenaga Outsourcing) di Sekolah Rakyat Tana Toraja (Tator) diduga menjadi permainan orang dalam. Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Tator, Adriana Saleng, mengaku sempat mendapati nama-nama yang diusulkan tak lolos dan digantikan orang lain.
Adriana mengungkapkan, dirinya mengusulkan sejumlah nama calon tenaga kepada kepala sekolah. Namun, ia mengaku pernah mendapati nama yang diusulkan digantikan orang lain.
“Itu usulan saya ke kepsek jadi kita tidak tahu ini kepsek apakah dia rekrut semua itu, ataukah ada dia orangnya lagi dia kirim ke sana. Bisa saja itu yang saya kasih di cancel karena pernah saya dapat orang yang diusul tidak lolos orang lain yang masuk berarti kan dia usul lagi orang lain,” ungkap Adriana, Kamis (15/10/2026).
Ia juga menegaskan belum mengetahui secara pasti siapa saja yang akan diangkat dalam perekrutan tahap kedua. Menurutnya, nama-nama yang beredar belum dapat dipastikan sebelum ada surat keputusan (SK) dari pemerintah pusat.
“Saya tidak tahu pengangkatannya ibu kepsek yang ke-dua barangkali saya tidak kenal. Itu yang tersebar belum pasti karena ada pi SK baru kita bisa komentari, ini kan baru pengusulan yang ada tanda tangan ku,” tegasnya.
Adriana menjelaskan, penerimaan tenaga outsourcing seharusnya mempertimbangkan usia produktif, perilaku yang baik, serta keterampilan sesuai dengan posisi yang dibutuhkan.
“Cara perekrutannya yang penting usia produktif, berkelakuan baik, punya keterampilan sesuai dengan misalnya juru masak bisa tata boga, cleaning service ada pengalaman, satpam ya penampilan-penampilan seperti satpam. Tahun depan akan bertambah jika murid bertambah lagi,” jelas Adriana.
Kadinsos Mengaku Tak Tahu Jumlah Tenaga yang Dibutuhkan
Adriana mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah tenaga outsourcing yang dibutuhkan Sekolah Rakyat Tana Toraja. Ia menyebut kebutuhan tenaga tersebut menjadi kewenangan kepala sekolah, sedangkan penentuan akhir penerimaan berada di pemerintah pusat.
“Itu yang saya tidak tahu, ya saya kira begitu dia kita tanya karena surat pemberitahuan outsourcing saya tidak tahu, kecuali ada ini awal rintisan diatas ada surat kementerian kepada kami. Itu saya share di grup Pemda itu, penerimaan outsourcing ini ini, tapi seberapa yang kami kirim ke sana kan bukan kita penentu dari pusat,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa pada masa awal perintisan Sekolah Rakyat, terdapat tujuh tenaga yang diterima. Mereka terdiri atas tiga satpam, dua juru masak, dan dua petugas kebersihan.
“Jadi yang diterima itu hari hanya 3 satpam, 2 juru masak, dan 2 cleaning service itu pun dari TSK mantan yang kerja sosial di kecamatan itu yang dimasukkan. Sama pendamping PKK itu yang direkrut,” jelasnya.
Namun, Adriana mengaku terkejut ketika mengetahui adanya penerimaan tahap kedua. Ia mengatakan sempat meminta penjelasan kepada kepala sekolah mengenai proses perekrutan tersebut.
“Nah baru-baru ini perekrutan ke-dua itu yang saya kaget setelah ada SK kenapa ada ini, saya konfirmasi ke ibu kepsek alasannya itu hari buru-buru saya disuruh cepat. Saya bilang justru kami kasih tahu cepat kamu dapat kalau kamu sendiri tidak cepat,” ungkapnya.
Pernyataan Adriana tersebut memunculkan pertanyaan mengenai alur pengusulan nama, proses seleksi, serta pihak yang berwenang menentukan tenaga yang akhirnya diterima.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Tator, Lestari R.A, yang berusaha dikonfirmasi terkait keterangan Adriana dan proses penerimaan tenaga outsourcing tahap kedua hingga berita ini diterbitkan, Lestari memilih bungkam.
Penulis: Nober Salamba
Editor: Redaksi












