JAKARTA, UPDATENEWS – Putra-putri asal Kecamatan Mappak, pelosok Kabupaten Tana Toraja, mencatat langkah di tingkat nasional setelah dipercaya masuk dalam jajaran Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Santo Thomas Aquinas periode 2026–2028. Demianus dari PMKRI Cabang Toraja dan Dawita Rama dari PMKRI Cabang Makassar resmi dilantik bersama jajaran Pengurus Pusat PMKRI di Margasiswa I, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/9/2026).
Demianus dipercaya mengemban tugas sebagai Wakil Sekretaris Jenderal, sementara Dawita Rama menjadi Presidium Riset dan Teknologi Pengurus Pusat PMKRI periode 2026–2028.
Keduanya sama-sama berasal dari Kecamatan Mappak, Kabupaten Tana Toraja. Kehadiran dua kader tersebut di jajaran pengurus pusat menjadi bagian dari perjalanan kaderisasi PMKRI yang membuka ruang bagi kader dari daerah untuk mengambil peran dalam kerja organisasi di tingkat nasional.
Pelantikan PP PMKRI periode 2026–2028 sekaligus menandai dimulainya mandat kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Christian A. D. Rettob.
Rangkaian pelantikan diawali dengan Misa Pelantikan, pemberkatan, dan perutusan para pengurus. Perayaan Ekaristi dipimpin Pastor Hans Jeharut bersama Pastor Lukas Kelwulan dan Pastor Joseph El.
Dalam homilinya, Pastor Hans Jeharut mengingatkan bahwa pelantikan tidak boleh berhenti sebagai seremoni organisasi. Mandat yang telah diterima para pengurus harus segera diterjemahkan dalam karya nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
PMKRI, menurutnya memiliki posisi strategis sebagai bagian dari kelompok intelektual muda Katolik yang mempunyai tanggung jawab dalam membangun keadaban publik.
Karena itu, keberadaan organisasi harus diwujudkan melalui gerakan yang mampu menjawab persoalan konkret masyarakat, bukan hanya melalui agenda internal organisasi.
Pesan tersebut sejalan dengan arah kepemimpinan PP PMKRI periode 2026-2028. Dalam Pidato Kebangsaan, Christian A. D. Rettob menegaskan bahwa PMKRI akan menjadikan Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sebagai salah satu pijakan refleksi dan gerakan kebangsaan selama dua tahun kepengurusan.
“Jalan harapan di tengah dinamika bangsa, Gereja berjalan bersama merawat keadaban publik dan meneguhkan solidaritas kemanusiaan di Indonesia. PMKRI dengan segala kemampuan kader hari ini akan berusaha menginternalisasi dan mengimplementasikan nasihat kebangsaan ini,” ujar Christian.
Christian menekankan bahwa tantangan PMKRI ke depan tidak hanya terletak pada kemampuan kader dalam melahirkan gagasan. Lebih dari itu, gagasan tersebut harus mampu diterjemahkan menjadi tindakan bersama masyarakat.
Karena itu, gerakan sosial dan kebangsaan, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan pembinaan kader yang berkelanjutan.
Di tengah arah kepemimpinan baru tersebut, Demianus dan Dawita Rama membawa latar kaderisasi dari daerah ke dalam struktur organisasi tingkat nasional.
Keduanya tidak hanya membawa nama Mappak dan Tana Toraja, tetapi juga membawa pengalaman kaderisasi yang mereka jalani melalui PMKRI Cabang Toraja dan PMKRI Cabang Makassar.
Bagi keduanya, mandat di tingkat pusat bukan sekadar posisi struktural, melainkan ruang pengabdian untuk membawa pengalaman kaderisasi dari daerah ke dalam dinamika perjuangan PMKRI secara nasional.
Perjalanan dari Mappak menuju Jakarta menunjukkan bahwa kaderisasi organisasi mahasiswa dapat membuka ruang bagi kader daerah untuk mengambil bagian dalam kerja organisasi di tingkat nasional.
Kini, mandat kepengurusan telah diberikan. Selanjutnya, Demianus dan Dawita Rama akan menjalankan tanggung jawab tersebut bersama jajaran Pengurus Pusat PMKRI periode 2026–2028 dalam kerja organisasi dan pengabdian kepada masyarakat, dalam semangat Pro Ecclesia et Patria.
Penulis: Nober Salamba
Editor: Redaksi








