MAKASSAR, UPDATENEWS— Universitas Sawerigading (Unsa) Makassar menghadirkan sebuah dialog edukatif melalui kegiatan Dosen Tamu yang mengangkat tema “Kisah Nyata di Balik Kasus Terorisme: Membangun Kesadaran, Memperkuat Ketahanan Bangsa.” Kegiatan ini menghadirkan perspektif langsung dari mantan pelaku terorisme sekaligus membahas pentingnya peran generasi muda dalam mencegah berkembangnya paham kekerasan dan berbagai bentuk kejahatan di lingkungan masyarakat.
Kegiatan tersebut menghadirkan Suryadi Mas’ud, seorang mantan pelaku terorisme yang pernah menjalani sekitar 30 tahun berada dalam lingkungan jaringan terorisme dan 17 tahun menjalani hukuman penjara. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan pengalaman hidupnya serta perjalanan panjang yang membawanya terlibat dalam jaringan terorisme.

Kesaksiannya menjadi bagian penting dalam memberikan pemahaman kepada mahasiswa bahwa keterlibatan dalam jaringan terorisme tidak hanya berdampak terhadap korban dan masyarakat luas, tetapi juga menghancurkan masa depan pelaku dan keluarganya.
Suryadi juga mengungkap sejumlah kasus aksi terorisme yang pernah dikaitkan dengan dirinya, di antaranya kasus McDonald’s di Mal Ratu Indah (MaRI)di Makassar, Bom Bali I, Bom Thamrin, serta sejumlah kasus terorisme lainnya. Kesaksian tersebut diharapkan dapat menjadi pembelajaran nyata bagi mahasiswa mengenai bagaimana seseorang dapat terjerumus ke dalam lingkungan ekstremisme serta konsekuensi panjang yang harus dihadapi.

Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diajak untuk membangun sikap kritis terhadap berbagai bentuk propaganda, doktrin kekerasan, dan ajakan yang dapat mengarah pada tindakan ekstrem. Pendidikan dan lingkungan akademik dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun daya kritis generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang mengarah pada kekerasan.
Selain menghadirkan perspektif dari mantan pelaku terorisme, kegiatan tersebut juga menghadirkan Kompol H. Abdul Samad, S.H., M.H., dari Polsek Bontoala. Dalam pemaparannya, ia menyoroti berbagai persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat yang masih menjadi tantangan di wilayah perkotaan, termasuk persoalan geng motor dan kejahatan jalanan.

Menurutnya, persoalan kejahatan di wilayah perkotaan dapat muncul hampir setiap hari dan membutuhkan perhatian serta keterlibatan berbagai pihak. Kondisi perkotaan dengan dinamika sosial yang kompleks membuat potensi konflik dan kejahatan menjadi persoalan yang harus diantisipasi secara bersama-sama.
Kompol H. Abdul Samad menekankan bahwa upaya menjaga keamanan tidak dapat hanya dibebankan kepada kepolisian. Diperlukan sinergi antara aparat penegak hukum, pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, kampus memiliki peran penting dalam membangun kesadaran hukum dan keamanan di kalangan mahasiswa. Kolaborasi antara kepolisian, pemerintah, dan civitas akademika diharapkan mampu mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ikut berperan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.
Ia juga mendorong konsep “memolisikan diri”, yakni membangun kesadaran setiap individu untuk menjaga keamanan, menaati aturan, serta tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat. Kesadaran tersebut dinilai penting karena keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum, Dr. Dian Eka Kusuma Wardani, S.H., M.H., bertindak sebagai moderator dalam kegiatan tersebut. Diskusi berlangsung dengan mengedepankan pendekatan edukatif dan reflektif, sehingga mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai terorisme dan keamanan, tetapi juga memahami akar persoalan sosial yang dapat mendorong seseorang terlibat dalam tindakan kekerasan.
Kegiatan Dosen Tamu ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengalaman mantan pelaku terorisme, perspektif kepolisian, dan lingkungan akademik. Pertemuan tersebut diharapkan mampu memperkuat kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya menjaga persatuan, memahami keberagaman, serta membangun ketahanan sosial dan kebangsaan.
Melalui kegiatan ini, Universitas Sawerigading Makassar menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga membangun kesadaran hukum, ketahanan sosial, dan karakter kebangsaan mahasiswa.
Pengalaman nyata yang disampaikan dalam forum tersebut diharapkan menjadi pelajaran penting bahwa terorisme dan kekerasan bukanlah jalan keluar atas persoalan sosial. Sebaliknya, dialog, pendidikan, kesadaran hukum, toleransi, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan bangsa yang aman, damai, dan berkeadilan.






