TATOR, UPDATENEWS – Tagline Tana Toraja Masero yang digaungkan Pemerintah Kabupaten Tana Toraja (Tator) menuai sorotan. Tokoh masyarakat, Ferdy Mangasi Andi Lolo, mempertanyakan sejauh mana pemerintah daerah memahami dan menerapkan makna Masero agar tidak sekadar menjadi semboyan tanpa implementasi nyata.
Ferdy menilai, makna Masero yang berarti bersih tidak semestinya hanya dimaknai sebatas kebersihan lingkungan dari sampah. Menurutnya, kebersihan juga harus tercermin dari mentalitas pemimpin dan aparatur pemerintah.
“Sebenarnya Penjelasan Pemkab Tator kepada masyarakat apa arti Kalimat MASERO agar jangan cuma jadi KALIMAT TANPA ARTI/SEMBOYAN. Sebenarnya Arti MASERO yang di Indonesiakan menurut pengertian saya adalah BERSIH dalam pengertian bukan cuma bersih dari sisi sampah tapi juga mentalitas pimpinan dan aparatnya,” kata Ferdy kepada UPDATENEWS, Sabtu (3/10/2026).
Ia mempertanyakan apakah Bupati Tana Toraja bersama jajaran pemerintahannya benar-benar memahami makna yang terkandung dalam tagline tersebut.
“Apakah yang dijadikan Bupati bersama wakilnya Tagline MASERO itu sudah dipahami arti sebenarnya karena jangan asal jadi semboyan padahal tidak memahami seperti jika pribadinya terindikasi Pelaku KKN,” katanya.
Menurut Ferdy, sebelum Masero dijadikan tagline pemerintah daerah, semestinya makna dan konsepnya dibahas bersama berbagai elemen masyarakat, termasuk cendekiawan, pers, LSM, tokoh adat, dan tokoh agama.
“Seharusnya pengertian masero sebelum jadi Tagline mengajak para Cendekiawan, Pers, Lsm, tokoh Adat, Agama untuk dibahas,” ucap Ferdy.
Ia juga menyoroti persoalan sampah yang masih ditemukan menumpuk di selokan, kanal, hingga sungai-sungai besar maupun kecil di Tana Toraja. Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan membangun tempat pengelolaan sampah. Pemerintah juga perlu memikirkan solusi menyeluruh agar persoalan tersebut tidak terus berulang.
“Contoh kecil saja tentang penumpukan sampah-sampah yang ada di selokan, kanal maupun sungai-sungai besar dan kecil kecil. Kemudian bagaimana solusi tentang sampah bukan cuma dengan membuat tempat pengelolaannya,” terang Ferdy.
Ferdy turut mengingatkan bahwa makna bersih dalam tagline Masero seharusnya mencakup aspek moral dan integritas penyelenggara pemerintahan.
Ia menyinggung pentingnya keselarasan antara semboyan yang digaungkan pemerintah dengan perilaku pemimpin dan aparatur dalam menjalankan tugas, termasuk menjaga diri dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Sorotan tersebut muncul di tengah capaian Pemkab Tana Toraja yang meraih peringkat II Penghargaan Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Sulawesi kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri.
Di sisi lain, kondisi aliran sungai di sekitar Pasar Makale yang masih memperlihatkan tumpukan sampah turut menjadi perhatian terhadap implementasi program Tana Toraja Masero.
Kritik Ferdy menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah tagline pemerintah tidak cukup diukur dari penghargaan atau program yang diluncurkan, tetapi juga dari penerapannya dalam kehidupan masyarakat dan tata kelola pemerintahan.
Bagi masyarakat, Masero diharapkan bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang tercermin melalui lingkungan yang bersih, pelayanan publik yang baik, serta integritas pemimpin dan aparatur pemerintah.
Penulis: Nober Salamba
Editor: Redaksi






