MAKASSAR, UPDATENEWS – Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Makassar, Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan, mengatakan sampel makanan dalam kasus dugaan keracunan yang dialami 152 siswa SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale (To’bo’ne) di Tana Toraja akan diuji di BBPOM Makassar. Yosef menjelaskan, wilayah Kabupaten Tana Toraja masuk dalam wilayah kerja BPOM di Palopo.
Menurutnya, jika terjadi kasus keracunan, tim BPOM di Palopo akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan investigasi secara terpadu guna mengetahui penyebab kejadian.
“Selamat malam rekan-rekan media untuk Kabupaten Tana Toraja masuk wilayah kerja BPOM di Palopo. Jadi untk diketahui bahea UPT BPOM di Sulsel ada 3, BBPOM di Makassar, BPOM di Palopo dan Loka POM di Bone. Sy yakin tim BPOM di Palopo telah berkoordinasi dgm Dinas Kesehatan jk terjadi kasus keracunan, dan tentunya melakukan investigasi secara terpadu untuk mengetahui penyebab keracunan,” ujar Yosef, Kamis (3/9/2026).
Ia mengatakan, sampel kasus keracunan dari daerah biasanya dapat diuji di Labkesda maupun BBPOM Makassar. Namun, berdasarkan informasi sementara, sampel makanan dalam kasus dugaan keracunan di Tana Toraja akan diuji di BBPOM Makassar.
“Sampel keracunan dari daerah biasanya diuji di Labkesda atau juga di BBPOM Makassar. Hasil pengujian kami serahkan ke pihak Dinkes Kabupaten Kota dan nantinya yang akan mengkomunikasikan kepada publik ada Satgas MBG di setiap Kabupaten Kota, demikian rekan-rekan semua. Informasi sementara sampel mmg akan diujikan di BBPOM Makassar, terima kasih,” katanya.
Terkait keamanan pangan, Yosef menegaskan bahwa pengawasan tidak hanya dilakukan pada satu titik atau tahapan, tetapi harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir.
“Sebagaimana pernah saya sampaikan keamanan pangan tidak bisa hanya dibangun pada satu titik atau tahapan, namun harus utuh dari hulu sampai hilir, mulai bahan baku, tempat produksi, peralatan, penangan bahan baku (penyimpanannya), penjamah pangan, proses pengolahan, pemorsian, distribusi, hingga diterima oleh penerima manfaat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan budaya keamanan pangan secara berkelanjutan, baik di SPPG maupun lingkungan penerima manfaat, termasuk sekolah.
“Kesadaran pentingnya keamanan pangan harus diimplementasikan secara berkelanjutan baik di SPPG ataupun di lingkungan penerima manfaat (sekolah), misalnya apakah tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi air mengalir, sabun cuci tangan dan lap kering,” pesannya.
Yosef juga mengingatkan pentingnya kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan memastikan makanan siap saji segera dikonsumsi.
“Memastikan budaya keamanan pangan pada siswa, cuci tangan dengan sabun selama minimal 10 detik, menggunakan alat makan yang bersih. Pangan siap saji maksimal 4 jam, dan harus segera dikonsumsi, karena lebih dari 4 jam meningkatkan resiko,” ungkap Yosef.
Menurutnya, bahan pangan berupa daging, unggas, ikan dan telur atau yang disebut produk DUIT perlu mendapat perhatian dalam proses penyimpanan maupun pengolahannya.
“Utamanya produk DUIT (daging, unggas, ikan dan telur), keempatnya tinggi protein yg baik utk metabolisme tubuh, namun jika penanganan dlm penyimpanan bahan baku atau yg sdh masak salah, berpotensi menjadi media pertumbuhan mikroba,” tutur Yosef.
Ia menegaskan, keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama dalam pelaksanaan program makanan bergizi.
“Program baik tentunya harus dieksekusi dengan baik, saat bicara masalah keamanan pangan, mrpk tanggung jawab kita bersama sebagai suatu bangsa. Bukan pangan jika tidak aman, terima kasih,” tegasnya.
Yosef juga mengimbau masyarakat tidak mengonsumsi makanan apabila terdapat perubahan pada kondisi fisik, aroma maupun rasanya.
“Tentunya utk tidak mengkonsumsi makanan jika sdh ada penyimpangan terhadap penampakan fisik, aroma dan rasa,” imbaunya.
Penulis: Nober Salamba
Editor: Redaksi






