TATOR, UPDATENEWS – Penolakan terhadap proyek geothermal di Kabupaten Tana Toraja belum menunjukkan tanda mereda. Setelah Kecamatan Bittuang, kini Kecamatan Sangalla ikut disebut-sebut masuk dalam rencana pengembangan panas bumi yang menuai kekhawatiran masyarakat.
Proyek tersebut tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang mencakup sejumlah titik di Sulawesi Selatan, termasuk wilayah Tana Toraja. Kehadiran proyek ini dinilai berpotensi mengganggu ruang hidup masyarakat adat yang selama ini bergantung pada sektor pertanian, peternakan, dan pariwisata berbasis alam.
Penolakan pun kembali menguat, berbagai elemen, mulai dari masyarakat adat, mahasiswa, hingga pemuda di Tana Toraja, menegaskan bahwa wilayah seperti Bittuang dan Sangalla’ bukanlah ruang kosong yang dapat dieksploitasi tanpa mempertimbangkan dampak ekologis dan sosial.
Pemuda Sangalla’, Garsia Randa Bandaso, mengungkapkan bahwa proyek geothermal di Bittuang telah memasuki tahap pelelangan Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE). Sementara itu, di Sangalla’, prosesnya disebut telah berada pada tahap survei rinci atau detail.
“Di Sangalla’ sudah masuk tahap survei rinci. Padahal Toraja adalah daerah agraris yang sangat bergantung pada sumber air untuk pertanian dan kebutuhan hidup masyarakat,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Ia menyoroti kawasan Makula di Lembang Tokesan, Kecamatan Sangalla’ Selatan, yang disebut sebagai titik vital dalam rencana proyek tersebut. Menurutnya, wilayah itu merupakan sumber utama mata air warga yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.
“Kalau Bittuang punya Buntu Karua untuk pengairan, kami di Sangalla’ punya Makula. dan ini adalah titik vital dari proyek geothermal tersebut,” tegasnya.
Garsia memperingatkan, aktivitas pengeboran geothermal berisiko merusak struktur bawah tanah, termasuk akuifer yang menjadi penyimpan air. Dampaknya, debit air bisa menurun bahkan hilang, mengancam keberlangsungan hidup warga.
Selain itu, ia juga mengingatkan potensi risiko bencana. Sangalla’ memiliki catatan historis longsor, seperti yang terjadi pada November 2010 yang memaksa warga mengungsi. Kondisi geologis Tana Toraja yang didominasi pegunungan dengan struktur batuan kompleks dinilai rentan terhadap gangguan akibat aktivitas pengeboran.
“Ketika dilakukan pengeboran untuk mencapai titik panas, ada risiko longsor bawah tanah hingga semburan lumpur. Ini yang dikhawatirkan masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, karakter batuan sedimen dan gamping di wilayah Toraja berperan penting dalam menyerap dan menyimpan air. Jika terganggu, maka keseimbangan lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat ikut terancam.
Penolakan terhadap proyek geothermal di Tana Toraja pun diprediksi akan terus berlanjut seiring meluasnya kekhawatiran warga terhadap dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan.
Penulis: Nober Salamba
Editor: Redaksi












