TATOR, UPDATENEWS – Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja (Getor) menyoroti video yang memperlihatkan sejumlah diduga pelajar SMP di Bittuang bermain judi sabung ayam dan beredar di media sosial Facebook. BPS Gereja Toraja menyayangkan dugaan keterlibatan pelajar dalam aktivitas tersebut, terlebih jika dilakukan saat masih mengenakan seragam sekolah.
“Dari psikologi perkembangan anak-anak adalah peniru yang jitu, teori mengatakan anak-anak itu peniru yang handal, idealnya anak-anak itu belajar dan bermain tapi kemudian sudah tersusupi kegiatan-kegiatan yang merusak seperti massaung itu berarti bahwa lingkungannya kurang sehat. Kalau kita bicara lingkungan disitu ada semua pihak terutama orang-orang dewasa yang gagal memberi contoh dan teladan positif dalam pertumbuhannya anak-anak,” ujar Ketua V BPS Getor, Bidang Perlindungan Anak, Pendeta Yusuf Paliling kepada UPDATENEWS, Kamis (13/8/2026).
Menurut Yusuf, persoalan tersebut perlu dilihat dari sisi perlindungan anak. Ia menekankan bahwa anak-anak semestinya mendapatkan perlindungan dari berbagai pengaruh negatif yang dapat mengganggu proses tumbuh kembang mereka.
“Saya lihat dari dua sisi saja, soal perlindungan anak negara menjamin anak-anak mesti dilindungi dari berbagai pengaruh-pengaruh yang akan merusak masa depannya. Ketika anak-anak yang mestinya ada disekolah saya tidak tahu video itu apakah jam sekolah atau sudah pulang tapi masih menggunakan seragam sekolah,” katanya.
“ini kan memprihatinkan kita bahwa dalam hal ini negara gagal melindungi anak-anak dari pengaruh negatif terhadap proses pertumbuhannya demi masa depan. Anak-anak adalah aset terpenting dari bangsa ini untuk masa depan,” katanya.
Ia juga menyoroti peran keluarga dalam membentuk perilaku anak. Menurutnya, lingkungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk karakter dan pergaulan anak.
“Kedua soal disfungsi keluarga, saya melihat bahwa apa yang dilakukan atau perilaku yang ditunjukkan oleh seorang anak diluar rumah itu itu menggambarkan seperti apa didalam rumahnya,” ujarnya.
Yusuf menegaskan, anak-anak semestinya mengisi masa pertumbuhan dengan kegiatan yang mendukung pendidikan dan pembentukan karakter.
“Anak-anakitu mestinya bermain dan menuntut ilmu, bermain dalam mengarah yang positif dan bukan yang merusak karakter masa depannya. Saya melihat di sini keluar tidak melindungi anak-anak dari berbagai pengaruh yang akan merusak masa depannya, saya berpikir kalau keluarga itu berfungsi dengan baik anak-anak kehangatan cinta dan perhatian yang cukup dari orang tua dan anggota keluarga maka dia tidak akan mudah terjerumus dengan bentuk-bentuk pergaulan yang ada diluar,” tuturnya.
Karena itu, ia mendorong gereja, sekolah, pemerintah, dan masyarakat memperkuat edukasi serta pembinaan terhadap anak dan keluarga.
“Gereja, sekolah bersama dengan pemerintah bahkan masyarakat perlu terus menerus meningkatkan fungsi edukasi, pembinaan moral dan spiritual bagi keluarga dan masyarakat khususnya bagi anak-anak,” pungkasnya.
Penulis: Nober Salamba
Editor: Redaksi











