MAROS, UPDATENEWS— Pagi belum sepenuhnya ramai ketika langkah kaki mulai menyusuri jalan setapak menuju sebuah sekolah kecil di Dusun Holiang, Desa Cenrana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Tak ada suara kendaraan yang lalu-lalang. Jalan yang ditempuh bukan jalan beraspal mulus, melainkan jalur yang sebagian masih berupa tanah dan bebatuan. Ketika hujan turun, jalan itu berubah menjadi licin dan semakin sulit dilalui.
Namun, bagi para guru UPTD SDN 144 Holiang, jalan terjal tersebut bukan alasan untuk berhenti datang ke sekolah.

Begitu pula bagi 19 siswa yang setiap hari datang membawa satu hal yang jauh lebih kuat daripada keterbatasan fasilitas
Sekolah yang telah berdiri sejak 1985 itu seolah menjadi saksi perjalanan panjang anak-anak di wilayah terpencil untuk mendapatkan pendidikan. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, pendidikan tetap tumbuh, meski dengan segala keterbatasannya.

12 Kilometer yang Tidak Mudah
Untuk mencapai SDN 144 Holiang dari jalan utama, perjalanan harus menempuh jarak sekitar 12 kilometer. Sekilas, angka tersebut mungkin tidak terdengar terlalu jauh.
Tetapi perjalanan menuju sekolah ini memiliki cerita yang berbeda.Sekitar lima kilometer terakhir harus dilalui melalui jalan setapak yang sulit dilalui kendaraan. Kontur jalan yang curam dan licin membuat perjalanan menjadi perjuangan tersendiri.
Setiap langkah menuju sekolah menjadi bagian dari pengabdian yang mungkin tidak banyak terlihat. Tidak ada kemewahan fasilitas perjalanan. Yang ada hanyalah tekad untuk memastikan bahwa ruang kelas tetap terisi dan anak-anak tetap mendapatkan pelajaran.

Di balik langkah kaki para guru itu, ada 19 anak yang menunggu.Mereka menunggu guru dating, mereka menunggu pelajaran dimulai dan mereka menunggu kesempatan untuk memahami dunia yang jauh lebih luas daripada lingkungan tempat mereka tumbuh.
Sesampainya di sekolah, tantangan belum berakhir. Keterbatasan justru semakin terlihat dari kondisi bangunan.Dua ruang kelas mengalami kerusakan parah. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran tidak dapat berlangsung seperti sekolah-sekolah pada umumnya.
Kelas harus digabung.Ruang belajar kemudian dibagi menggunakan sekat sederhana yang dibuat dari kayu dan berbagai bahan seadanya. Tidak ada ruang kelas yang sempurna,tidak ada fasilitas yang lengkap. Namun, di balik sekat sederhana itu, suara guru tetap terdengar. Buku-buku tetap dibuka. Pensil tetap digerakkan di atas kertas. Dan pertanyaan-pertanyaan kecil dari anak-anak tetap memenuhi ruang belajar.
Di tempat yang mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang, bagi mereka ruang itu adalah sekolah. Tempat dimana mereka belajar membaca, tempat mereka belajar berhitung, tempat mereka dapat mengenal dunia dan isinya, dan mungkin, tempat mereka mulai membangun mimpi tentang masa depan.
19 Anak dan Mimpi yang Tidak Sederhana
Ada sesuatu yang lebih kuat daripada kondisi bangunan dan jauhnya akses menuju sekolah. Yakni wajah anak-anak yang tetap datang dengan semangat.
Hasil visitasi tim menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak membuat siswa SDN 144 Holiang kehilangan motivasi untuk belajar. Mereka mengikuti proses pembelajaran dengan antusias, bukan karena paksaan, melainkan karena kesadaran dan keinginan mereka sendiri untuk memperoleh pendidikan.
Hal tersebut menjadi bagian paling menyentuh dari perjalanan ke sekolah ini. Di tengah berbagai fasilitas yang serba terbatas, anak-anak justru memperlihatkan sesuatu yang tidak dapat dibangun hanya dengan anggaran. Adalah ini tentang “Semangat”. Semangat untuk datang ke sekolah, Semangat untuk mendengarkan guru,Semangat untuk belajar dan semangat untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Bagi mereka, sekolah bukan sekadar sebuah bangunan. Sekolah adalah pintu kecil menuju dunia yang lebih luas.
Di sisi lain, ada para guru yang menjadi bagian penting dari cerita tersebut. Mereka harus melewati jalan yang tidak mudah untuk sampai ke sekolah. Tetapi setiap kesulitan perjalanan seolah terbayar ketika melihat siswa hadir dan siap belajar.
Nana Erna, S.Pd., M.Pd., salah satu anggota tim visitasi, melihat langsung kondisi tersebut. Menurutnya, apa yang ditemukan di SDN 144 Holiang menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di wilayah terpencil tidak hanya berbicara mengenai proses belajar-mengajar, tetapi juga tentang akses dan kelayakan sarana pendidikan.
Kondisi tersebut, kata dia, membutuhkan perhatian bersama agar anak-anak di daerah terpencil tetap memperoleh hak pendidikan yang layak.
Senada dengan itu, Rosdiati, S.Ag., M.Si., yang juga menjadi bagian dari tim visitasi, menilai bahwa semangat belajar siswa merupakan kekuatan yang patut diapresiasi. Antusiasme anak-anak di tengah keterbatasan menjadi pesan penting bahwa pendidikan tetap memiliki tempat yang sangat berarti bagi masyarakat di wilayah terpencil.
Balik Sekat Kayu, Ada Masa Depan
SDN 144 Holiang mungkin tidak memiliki ruang kelas yang megah. Bangunannya yang sudah reok itu menanti perhatian pemerintah untuk disegarkan agar anak-anak lebih nyaman menerima pelajaran. Ada 19 anak yang sedang menulis masa depan, ada yang ingin jadi guru, perawat, ada yang ingin membangun desanya. Mimpi-mimpi itu sedang tumbuh di sebuah sekolah kecil yang berdiri jauh dari pusat keramaian.
Dan setiap pagi, mimpi-mimpi itu kembali dinyalakan oleh langkah kaki anak-anak yang datang ke sekolah. Kisah SDN 144 Holiang pada akhirnya bukan hanya tentang bangunan yang rusak, jalan yang terjal, atau ruang kelas yang harus disekat dengan kayu.

Tidak ada hanya mimpi anak-anak yang ada di balik sekat kayu, di sekolah itu juga ada cerita tentang keteguhan. Tentang guru-guru yang tetap melangkah meski perjalanan tidak mudah, tentang sebuah keyakinan sederhana bahwa setiap anak, di mana pun mereka tinggal, berhak memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi.
Di Holiang, pendidikan mungkin berjalan dengan langkah yang pelan, tapi ia tidak pernah berhenti. Sebab di balik jalan setapak yang panjang dan ruang kelas yang sederhana itu, ada 19 anak yang sedang mengatakan kepada dunia “Kami ingin belajar. Kami ingin bermimpi. Dan kami ingin memiliki masa depan.”






