Terdampak Kekeringan, 1.832 Hektare Sawah di Tana Toraja Terancam Gagal Panen

TATOR, UPDATENEWS – Kekeringan yang melanda Kabupaten Tana Toraja berdampak besar terhadap sektor pertanian. Sebanyak 1.832 hektare lahan persawahan dilaporkan terdampak kekeringan dan berpotensi mengalami gagal panen jika kondisi tersebut tidak segera ditangani.

“Kondisi kita sekarang Tana Toraja tidak ada hujan, saya sampaikan kemarin kepada Bapak Bupati luas lahan kita yang terdampak Kekeringan atau El Nino itu sekitar seribu delapan ratusan hektare. Berpotensi kalau tidak ditangani, kemarin dari provinsi ada link untuk permintaan bantuan kami sudah kirimkan dan sudah direspon mudah-mudahan secepatnya karena tidak ada sumber air,” ujar Kadis Pertanian dan Perikanan Tana Toraja, Yohanis Some kepada UPDATENEWS saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekurangan air yakni pembuatan sumur bor. Jika sumber air tersedia, kebutuhan pengairan lahan dapat dibantu menggunakan pompa.

“Ada solusinya untuk dibuatkan sumur bor, kalau ada sumber air pakai pompa. Kalau perkebunan ada juga karena sumber air kita juga sungai hampir kering, kita selalu berkoordinasi dengan pusat karena dampaknya El Nino ini luar biasa,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, hingga saat ini belum ada laporan langsung dari petani terkait lahan yang mengalami gagal panen. Namun, Dinas Pertanian telah menerima sejumlah aduan mengenai ancaman gagal panen melalui sambungan telepon.

“Untuk sementara saat ini belum, paling kami ditelpon,” jelasnya.

Ancaman gagal panen tersebut dinilai dapat berdampak terhadap pendapatan petani sekaligus ketersediaan bahan baku pertanian di Tana Toraja.

“Pasti ada dampaknya, Tana Toraja ini sumbernya dari pertanian. Dampaknya kalau gagal panen pasti pendapatan petani akan berdampak kemudian bahan-bahan baku, jadi pasti ada resiko dan dampaknya kalau gagal Panen,” tutupnya.

READ  Usai Tipu Warga dan Gondol Emas Puluhan Gram, TNI Gadungan Ditembak Polisi di Gowa

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas IV Toraja memprediksi puncak musim kemarau di Kabupaten Tana Toraja terjadi pada Agustus hingga September 2026.

Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga kuartal pertama 2027.

 

Penulis: Nober Salamba 

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *